Seperti saat air mataku yang malu-malu mengalir
Atau saat hatiku berdzikir bayang senyummu
Kita berdua memang bukan kertas putih
Di mana tinta takdir dapat ditulis oleh manusia
Takdir indah seindah kata-kata penyair
Yang di dalamnya akan kutulis kita menyatu dalam bahagia
Kita memang bukan angin
Mengalir mengikuti aliran alam
Kadang menyejukan kadang menyakitkan
Walau begitu angin tak akan pernah terpisah
Dia satu dan bersatu walau tanpa wujud
Kuandaikan kita ini perahu daun
Dirangkai oleh ketidaksengajaan takdir
Dihanyutkan bersama di aliran sungai
Pada Awalnya kita bersama
menikmati air mengalir,
mencumbui aliran angin,
mengaliri belaian takdir
Pada selanjutnya kita bersama
terantuk batu-batu,
tertusuk ujung kayu,
dan terpisah seiring waktu
Pada akhirnya kita tak paham tentang pertemuan
Sama tak mampu pahamnya kita akan kenyataan
Atau lebih baik berharap saja aliran ini
tak sengaja menenggelamkan aku dan kamu
untuk bertemu diujung pangkal lagi