Sabtu, 07 Desember 2013

Pada akhirnya

Di suatu titik aku akan merindukanmu bunga
Seperti saat air mataku yang malu-malu mengalir
Atau saat hatiku berdzikir bayang senyummu

Kita berdua memang bukan kertas putih
Di mana tinta takdir dapat ditulis oleh manusia
Takdir indah seindah kata-kata penyair
Yang di dalamnya akan kutulis kita menyatu dalam bahagia

Kita memang bukan angin
Mengalir mengikuti aliran alam
Kadang menyejukan kadang menyakitkan
Walau begitu angin tak akan pernah terpisah
Dia satu dan bersatu walau tanpa wujud


Kuandaikan kita ini perahu daun
Dirangkai oleh ketidaksengajaan takdir
Dihanyutkan bersama di aliran sungai

Pada Awalnya kita bersama
 menikmati air mengalir,
 mencumbui aliran angin,
 mengaliri belaian takdir

Pada selanjutnya kita bersama
 terantuk batu-batu,
 tertusuk ujung kayu,
 dan terpisah seiring waktu

Pada akhirnya kita tak paham tentang pertemuan
Sama tak mampu pahamnya kita akan kenyataan

Atau lebih baik berharap saja aliran ini
 tak sengaja menenggelamkan aku dan kamu
 untuk bertemu diujung pangkal lagi