Selasa, 27 Agustus 2013

Tumbang

Bukan putus cinta yang akhirnya menumbangkanku, tetapi kehilangan kehadiranmu yang biasa mendamaikan jiwaku.
Kamu adalah gadis manis nan baik hati, salah satu insan yang paling aku kagumi. Sudah tak terhidung berapa ungkapan kagum yang kusampaikan padamu.
Gambar-gambarmu yang sederhana telah membuatku jatuh cinta sejak awal. Gurata-guratanmu selalu jujur dan segar. Banyak orang yang memuji karyamu dengan kata lucu, imut dan bagus. Semuanya benar tetapi bagiku gambarmu memiliki rasa, manis dan segar seperti strawberry.
Dari gambar-gambarmu aku merasakan kehadiranmu, membayangkan kamu di tengah alat-alat lukis, tenggelam dibalik imajinasi dan mimpi-mimpi mu yang tidak ada habisnya. Sibuk membuat mimpi-mimpi menjadi nyata dengan kertas dan pensil warna. Betapa kagum aku padamu.
Hanya saja kini kamu tak lagi membagi harimu. Tumbang sudah satu pilar senyumku

Minggu, 25 Agustus 2013

Maaf

Maaf, itu kata yang kukatakan berulang-ulang dalam hati. Pada satu titik saat dia menyatakan tidak ingin aku memberinya perhatian. Maaf-maaf-maaf,  begitu isi hatiku selama berhari-hari. Aku berpikir keras untuk menemukan berbagai kemungkinan akan pernyataanmu. Aku benar-benar takut telah menyakitimu.
Apa aku telah menyakitimu? apa sakti itu terlalu dalam hingga kamu tak ingin kuperhatikan?
Aku heran dan belum mampu menerjemahkan arti lakumu. Cinta yang ada untukmu bukan lagi cinta yang harus memiliki untuk bahagia. Cinta ini tumbuh dari kebanggaan dan kebahagiaan, Kebanggaan atas seribu warna yang bisa kau tulis dari setiap senyuman hingga kebahagiaan yang kau rajut tiap jalinannya dengan tekun.

Senin, 19 Agustus 2013

Ingin Kembali

Ku inginkan untuk sudah
Ditemani niatan untuk sudah
Tapi sifat alam selalu tak sesuai
Seperti hujan yang turun tanpa kehenda

Pagi selalu menjadi harapan
Saat malam ku menimbun pengharapan
Pada mentari aku menanti
Terangi jalan untuknya kembali

Cuma sepi tidak akan terangkum
Seperti sajak yang tak akan tertulis

Cuma jalan bukan ke mari
Seperti bayangan sulur tumbuhan
Tumbuh tak sesuai kehendak hati
Tapi kemana tuntunan matahari

Minggu, 18 Agustus 2013

Celah Senja

Sore ini di bawah langit yang tertutupi mendung
Siluet Gunung Arjuna tampak membayang dikejauhan
Langit hanya menyisakan sedikit celah antara kaki gunung dan mendung
Celah di mana sisa senja membayang di kejauhan

Aku hanya mampu memandang
Sambil merabai hangat rasa rindu di hati
Rindu ini mencengkram hati
Memeluknya hingga hangat terasa setiap saat
Hingga selalu memberi celah agar senyuman
dan harapan datang disaat hitam kelam menjelang

Harapan pasti datang untuk cuplikan masa depan yang pantas dikenang

Jumat, 16 Agustus 2013

Kabut Tipis Semanis Madu


Saat aku berjalan di taman surga yang dikelilingi pohon-pohon pinus, ditengah serak-serak daun berjari lima yang kering, ditengah kabut putih yang lembut, gadis manis itu tampak rapuh. Didekap kedua kakinya sambil memangku wajah diatas lututnya. Sesekali terdengar sesengukan, mungkin itu sisa sisa tangis kesedihannya.
Kuitari dari jauh gadis manis berkerudung itu. Sekelilingnya terasa hangat. Ada aura kuat yang bukan aura orang biasa. Semangat kuat yang bukan semangat orang biasa. Itu  bukan kebimbangan kuat yang bukan kebimbangan orang biasa. Dalam hatiku berkata, gadis manis akan kuhapuskan kebimbanganmu dan hiduplah bersamaku berbagi kasih.

Cuplikan

Seringkali kisah cinta harus menghadapi suatu tembok nan tinggi dan tebal. Tembok itu adalah pilihan yang memisahkan antara kenangan, kasih sayang dan kenyataan menjadi satu kesatuan yang terpisah-pisah. 

Kenyataan adalah apa yang kita rasakan setiap saat, kita tak mampu menghindari rasa yang hadir tetapi kita bisa mengabaikan rasa yang hadir, demi kebaikan atau karena keraguan dan ketidak mampuan menerima kenyataan.
Aku kagum padamu karena kamu pernah terjebak dalam kungkungan rasa yang selalu kau coba untuk abaikan dan akhirnya memutuskan dan memilih untuk mengakui rasa itu. Kamu memutuskan mengakui rasa sakit dan meninggalkannya.
Empat bulan bukanlah waktu yang sebentar untuk mengabaikan rasa, apalagi rasa itu adalah rasa sakit. Terbayang berapa banyak kata ikhlas dan mantra pendingin hati yang kau rapal uuntuk mengabaikan rasa itu. Menipu diri dan berharap esok semua akan menjadi lebih baik.

Rabu, 14 Agustus 2013

Puisi Teman Sang Rembulan

Meski tak gamblang
Seperti bulan tanpa selimut awan
Walau tak jernih
Layaknya bulat mata bintang
Dengan sadar rindu telah di kenang
Tapi cinta masih dikandung badan


Kamis, 01 Agustus 2013

Fase hidup sore



Kamu selalu setia menunggu sore
Waktu di mana aku menemuimu
Sambil menikmati tetes do'a dari gelas kaca

Aku selalu setia menemuimu sore
Waktu di mana kamu menungguku
Sambil memberi tetes do'a dari gelas kaca

Kamu telah melihatku sejak umurmu sesenti
Di dalam pot hitam yang ku isi pupuk kandang
Aku ingat do'a pertama untukmu di sore itu