Saat aku berjalan di taman surga yang dikelilingi pohon-pohon pinus, ditengah serak-serak daun berjari lima yang kering, ditengah kabut putih yang lembut, gadis manis itu tampak rapuh. Didekap kedua kakinya sambil memangku wajah diatas lututnya. Sesekali terdengar sesengukan, mungkin itu sisa sisa tangis kesedihannya.
Kuitari dari jauh gadis manis berkerudung itu. Sekelilingnya terasa
hangat. Ada aura kuat yang bukan aura orang biasa. Semangat kuat yang
bukan semangat orang biasa. Itu bukan kebimbangan kuat yang bukan
kebimbangan orang biasa. Dalam hatiku berkata, gadis manis akan
kuhapuskan kebimbanganmu dan hiduplah bersamaku berbagi kasih.
Langkah kakiku mendekatinya perlahan hingga daun-daun yang menguning
dan kering mengikuti hikmat langkahku. Dia memandangku, pandangan itu
seolah menembus jubahku langsung menghujam jantungku. Seolah mata itu
melihat tarian syahdu hatiku akan dirinya. Wahai gadis manis, apa kau
tahu maksud hatiku? Apa kau benar-benar mengartikan tarian hatiku?
Kebimbangan itu telah merasuk padaku dengan mendamaikan jiwaku.
Gadis manisku, jiwa putihmu telah menyembuhkan hati yang terluka ini
hanya dengan tatapanmu. Maukah kau pulang bersamaku dan berbagi kasih
semanis madu?
