Minggu, 25 Agustus 2013

Maaf

Maaf, itu kata yang kukatakan berulang-ulang dalam hati. Pada satu titik saat dia menyatakan tidak ingin aku memberinya perhatian. Maaf-maaf-maaf,  begitu isi hatiku selama berhari-hari. Aku berpikir keras untuk menemukan berbagai kemungkinan akan pernyataanmu. Aku benar-benar takut telah menyakitimu.
Apa aku telah menyakitimu? apa sakti itu terlalu dalam hingga kamu tak ingin kuperhatikan?
Aku heran dan belum mampu menerjemahkan arti lakumu. Cinta yang ada untukmu bukan lagi cinta yang harus memiliki untuk bahagia. Cinta ini tumbuh dari kebanggaan dan kebahagiaan, Kebanggaan atas seribu warna yang bisa kau tulis dari setiap senyuman hingga kebahagiaan yang kau rajut tiap jalinannya dengan tekun.

Jelas sudah tak ada niat bagiku untuk merenggut kebahagiaanmu dengan pasanganmu, karena rasa itu walaupun ada telah takluk oleh keingingan melihatmu bahagia. Tetapi kenapa juga kamu harus mendiamkanku? Tanpa alasan, tanpa penjelasan yang mampu kucerna dan kupercaya.
Kini kurasa kamu sedang membangun tembok tebal dariku. Entah apa maksudmu, tapi ini menyiksaku.

Semoga kamu bahagia dengan hal ini, karena sakitku tidak boleh sia sia. Kuharap kamu kembali menyapa dengan penuh senyum :-)
Aku memperhatikan dan memberimu semangat adalah caraku mencintaimu, itulah caraku hidup layaknya manusia butuh bernafas.
Aku menguatkanmu karena itu membuatku kuat.

nb: published after heavily redacted