Senin, 29 Juli 2013

Titik Kenang

Saat orang-orang berlari mengejar mimpi, beberapa orang malah berjalan tenang mengikuti alur kehidupan. Menjalani hidup dengan tujuan yang diusahakan separo-separo.

    Aku memilih bersepeda, mengalir halus menyusuri jalan, meliuk-liuk melewati belokan-belokan sambil menikmati panorama dunia. Seindah berjalan, secepat berlari, itu yang membuat semua jadi terasa indah.
    Dua bulan lalu tepat di malam seperti ini, dingin, berangin dan hening, Persis. Sepedaku melibas jalanan kota untuk sekantong gorengan yang harus ku peroleh di pinggir jalan blok sebelah. Gorengan hangat yang dingin tentu sempurna pikir ku.
    Sepeda yang dikalungi gorengan pun terparkir di sudut lapangan, kutinggalkan jauh untuk menjemput dia di gerbang depan kampus. Dia adalah seorang nasrani cantik yang ku kenal dalam sebuah perjalanan ke arah timur.

Teori cinta

Dua minggu ini hatiku kuhabiskan untuk menyesali keputusan yangaku buat beberapa waktu yang lalu.

"Ini aku kasih tahu, ini aku namakan teori cinta", Aku merebut buku catatan dan drawing pen dari tangannya.

Kugambarkan lingkaran yang aku hubungkan dengan lingkaran lain, sambil kuceritakan arti dari tiap hubungan itu. "Cinta adalah suatu rasa yang timbul dalam pikiran tentang suatu objek, cinta akan kamu dapatkan kalau kamu mengijinkan", begitu kataku saat ku gambarkan salah satu lingkaran.
"Yang menjadi masalah bila kita ingin melepas cinta itu", lanjutku sambil memandang wajahnya dalam-dalam. Saat itu aku merasa mustahil bagiku untuk melepaskannya, dia begitu halus dan lembut tetapi dia tetap berkarakter. Ah Dewi impianku.

Jumat, 26 Juli 2013

Siluet sebuah tugu

Kamu mengejutkanku
Dengan tingkahmu yang begitu kuat
Kamu diam tanpa gurat kesedihan
Memandang kebahagiaan yang tak mampu kau rasakan

Entah kamu tuli atau apa
Saat mereka bersapa sayang
Saat mereka bersapa rindu
Disampingmu
Kau hanya diam

Entah kamu buta atau apa
Saat mereka bergandeng tangan
Saat mereka berpelukan
Disampingmu
Kau hanya diam

Di taman-taman yang di hiasi lampu taman
Siluet tugu lampu taman
Mencipta garis tegas antara ada dan tiada

Romansaku malam ini

Romansaku yang terbangun di dekat sebuah lampu taman muncul kembali dengan sangat kuat malam ini. Kejadian-kejadian kehidupan di sekelilingku yang biasanya hadir menguapkan rasa rindu, kini serasa hilang. Aku tak kuat menahan rasa yang berusaha kukubur dengan waktu.
Sebenarnya bahagia dalam romansa bagiku sangat sederhana, Bahagiaku hadir saat wanitaku bahagia. Sangat sederhana sebenarnya. Pernah dia menyatakan kebahagiaannya tentang rasa lega yang akhirnya dia rasakan, betapa bahagia diriku saat itu.
Kisah romansaku begitu pilu saat aku menyadari bahwa kebahagiaan tidak dapat dia peroleh dariku. Meski berat tentu harus kulepaskan dan mengantarkannya kepada kebahagiaan. Tapi sebenarnya kali ini aku menyesali keputusanku untuk melepaskannya. Dia kulepas karena akan ada titik berat pada perjalanan kita nanti, padahal aku yakin sebelum dan sesudah titik itu aku bisa mempersembahkan kebahagiaan baginya.
Cukup sudah, kini aku hanya akan menikmati kebahagiaannya di tempat baru sambil berangan selagi bisa

Kamis, 25 Juli 2013

Congkak

DI lembah kaki gunung
Di puncak pucuk gunu
Di daki pendaki
Di puji penyair
Di puja pendeta

Ceruk kecil remang di bawah kaki gunung
Celah hitam gelap di sebelah pucuk gunung
Lirikan pun tak mampir
Lolongan anjing tak hadir
Hanya selebaran kosong
Hasil kolang-kaling tak penting

Ooo Lembah Ooo Puncak
Tak rela kau berdiri
Tak sudi ku iri
Tak kan kalah aku yang suci

Selasa, 23 Juli 2013

Semoga kamu merasakan pagi


Secuplik waktu yang merangkum harapan do'a-do'a malam
Cuplikan do'a-do'a pengharapan

Setitik pagi dikala mentari membujur di horizon
Sebelum roda-roda besi mengisi jalan
Sebelum kata-kata menjelma tak indah
Saat kicau burung mengiringi langkah rajin semut-semut pekerja

Senin, 22 Juli 2013

Refleksi kehidupan gendis manis

Lantunan lagu What a wonderful world malam ini begitu lembut. Membelai bayang akan keindahan dunia, memunculkan imaji alunan lembut angin yang membelai wajah dan kicauan pohon yang bergesekan daunnya. Sempurna rasanya saat aroma dupa terapi dipadukan dengan segelas kopi lembut di cangkir. Hampir semua indraku diberi kenikmatan oleh tuhan semesta alam maha pengasih serta maha penyayang. Tetapi perjalananku sebenarnya tak selalu manis seperti ini, seperti gula.

Gendis adalah bahasa jawa dari gula, hasil endapan nira yang proses mendapatkannya diiringi oleh kerja keras penuh peluh. Seorang pengumpul nira harus memanjat pohon-pohon yang tinggi atau harus memeras tebu untuk mendapatkan sari alam. Belum lagi kerja keras saat mengaduk nira yang dipanaskan dalam suatu wajan besar yang biasa disebut kawah. Inilah proses penentuan dari kerja keras yang telah dilalui, bila gagal bukan gula yang didapat tetapi hanyalah adonan yang harus dibuang.

Menjalani Kalah

semangat bunga smile senyum matahari
Malam ini aroma dupa-dupa yang ku bakar tidak mendekatiku sama sekali. Wanginya hanya tersamar dari hidungku, terkadang membelai-belai tipis, terkadang pergi sama sekali. Persis seperti selendang kabut malam di gunung-gunung yang pernah kudaki, bedanya asap dupa ini memberi kehangatan di relung dada.
Kini malam benar-benar dingin, sehingga belaian aroma dupa ini benar-benar menyiksa. Disaat kehangatan yang aku butuhkan, malah rasa-rasa mengantung yang terasa. Memang sensasinya berbeda, terasa lebih lembut dan indah, namun menyiksa.
Pada saat-saat seperti ini aku mulai mengutuki kerelaan terhadap keputusan-keputusan untuk mengalah yang pernah kubuat. Yah aku sering mengalah. Tak jarang aku mengalah, bukan karena aku tidak mampu memperjuangkan kemenangan, tetapi karena ketidak mampuan melihat orang lain tersakiti oleh kekalahan atau kemenanganku.