Senin, 29 Juli 2013

Titik Kenang

Saat orang-orang berlari mengejar mimpi, beberapa orang malah berjalan tenang mengikuti alur kehidupan. Menjalani hidup dengan tujuan yang diusahakan separo-separo.

    Aku memilih bersepeda, mengalir halus menyusuri jalan, meliuk-liuk melewati belokan-belokan sambil menikmati panorama dunia. Seindah berjalan, secepat berlari, itu yang membuat semua jadi terasa indah.
    Dua bulan lalu tepat di malam seperti ini, dingin, berangin dan hening, Persis. Sepedaku melibas jalanan kota untuk sekantong gorengan yang harus ku peroleh di pinggir jalan blok sebelah. Gorengan hangat yang dingin tentu sempurna pikir ku.
    Sepeda yang dikalungi gorengan pun terparkir di sudut lapangan, kutinggalkan jauh untuk menjemput dia di gerbang depan kampus. Dia adalah seorang nasrani cantik yang ku kenal dalam sebuah perjalanan ke arah timur.

    Singkat cerita dia datang di pinggir jalan, rasanya dia kebingungan mencariku walau jarak kita hanya terpisah 5 meter saja. Ku sapa dia dan meluncurlah kami menuju satu titik pusar cerita ini bermula dan berpulang.
    Titik kenang, begitu mungkin kata yang enak untuk menyebut tempat ini. Tempat duduk nyaman di bawah pohon tua, di pojok lapangan. Di sekelilingnya dihiasi lampu-lampu taman yang memanjang menyerupai mutiara-mutiara berwarna emas dan bercahaya saat dikalungkan di leher putri yang jelita. Di sampingnya ada satu lampu taman yang akan membentuk siluet siapa saja yang duduk di tempat itu.
    Di sinilah aku pertama kali terperangah memandangi siluet dia. Suatu fenomena optis yang terjadi akibat adanya cahaya yang kuat di balik sebuah objek, menghasilkan garis-garis tegas bayangan dia, menyembunyikan setiap lekuk rupanya. Sederhana, menawan.
    "Ini tempat yang sering kuceritakan padamu", dia tersenyum padaku sembari membalas "Tempatmu biasa membaca buku sambil memandangi senja". Aku hanya membalas senyumnya dengan lembut. Kami menghabiskan detik-detik berdua di tempat ini, meresapi perpindahan waktu yang tersedia. "Aku bakal menemanimu kamu di tempat ini saat senja menjelang", dia berujar di tengah kecanggungan yang tiba-tiba terbentuk.
    Aku bukanlah lelaki yang biasa menciptakan satu ledakan dalam keheningan, semua kubawa mengalir halus lewat transisi lembut. Begitu pula saat aku akan berbicara padanya, aku akan menatap matanya, melempar senyum dan mulai berbicara. "Apa kamu tidak bosan hanya ku ajak duduk di sini sejak tadi?" Begitu ku katakan padanya. "Aku mau kok menemani kamu selama-lama-lama di sini", dia membalas dengan ciri khasnya, mengulang kata sampai tiga kali.
   
    Senja untuk kami berdua memang begitu istimewa. Hayalan imaji kita sering bertemu pada cuplikan waktu indah ini. Senja adalah suatu transisi ang mengantarkan siang hari pada malam dengan begitu lembut. Sinarnya yang menawan dan hangat sering membuat kita takjub.
    Rasanya seperti pada suatu malam disaat kita berdua memandangi takjub sebuah bianglala besar di tengah kota. Itu terjadi pada malam setelah pertemuan kita yang pertama. Ada rasa takjub, syahdu dan dingin saat itu. Entah karena kemegahan bianglala membuat kita merasa kecil sebagai makhluk ciptaan tuhan atau karena kita berdiri berdekatan saling mencanggungi batin untuk tidak saling menggandeng tangan.
    Hubungan dia dengan aku penuh liku-liku yang cukup singkat. Seperti perjalanan yang kulalui sepulang kuliah, mengayuh sepeda menuju titik kenang, melalui liku-liku jalan, melawan arus, memutar, terasa sangat indah walau dilalui dengan cepat dan singkat.
    …………………..
    Di titik kenang kami menamai segala macam hal, mulai dari kucing yang iseng menggodai kecanggunganku, hingga barang-barang kepunyaan kami. Sayang sepedaku luput dia beri nama hingga sekarang. Cupcake, pukis, marsya dan vani adalah korban-korban namaisme kami, kucing-kucing lucu imut dan unik.
    Cupcake adalah kucing paling unik sedunia yang aku tahu. Dia menggodai kami di titik kenang tetapi susah minta ampun untuk dipegang. Walau akhirnya dia datang demi sebuah cabe yang dia lempar dari kantong gorengan yang menggantung di sepedaku.
    "Dasar kucing spaneng" begitu katanya sambil tertawa kecil saat cupcake mengambil cabe yang dia lempar.

    Satu tempat indah juga menjadi korban kami. Malam terakhir sebelum kembali ke kotanya, ku ajak dia menuju satu tempat. Ku namai tempat itu kebun jerapah. "Kamu mau aku ajak ke kebun jerapah?" Kataku padanya saat kita asyik duduk di pinggir kolam suatu taman. "Apa itu? apa banyak jerapah di sana?" tanyanya penasaran.
    Tempat itu adalah sebusur jalan lurus yang penuh kejutan, tikungan terakhir sebelumnya tidak akan memberi mu apa-apa. Hingga kamu berbelok akan tampak ratusan, ribuan bahkan mungkin jutaan lampu-lampu yang bertebaran di bukit, menyatu dengan dengan indahnya bintang-bintang di langit. Membentuk gugusan ombak-ombak kilau yang hanya dapat ditemui di film-film romansa tiga dimensi.
    Seakan kita ingin melongok lebih jauh, lebih tinggi seperti jerapah untuk melihat lebih jauh.
    Dia sempat protes padaku "Tidak ada jerapah di sini", jelas dia tidak terima dengan penjelasanku. Yang terpenting adalah aku merasakan getaran dihatiku seakan menyatu dengannya yang duduk ku bonceng dibelakang.
……………..
    Titik kenang adalah perpaduan antara tempat yang nyaman dan lalu lalang lalu lintas yang terkadang cukup mengganggu, hingga akhirnya tidak akan nyaman lagi. Itulah nasib perbedaan yang sering terjadi di dunia nyata.
    Tapi tidak begitu bagi kami, aku pernah berhari-hari shalat di kamarnya yang dihiasi salib di suatu sisi tembok putih. Itu terjadi dua minggu yang lalu. Perbedaan, kecanggungan telah luluh di depan kami. Tetap indah
    Bagi kami perbedaan seperti tukang-tukang bangunan yang bekerja digedung sebelah titik kenang. Beberapa dari mereka bekerja mengemudikan crane-crane yang tinggi, yang lain membanting palu-palu untuk menghancurkan beton-beton yang keberadaannya disesali. Mereka berbeda tetapi memiliki satu komitmen untuk selalu bersatu dan saling mendukung untuk menciptakan suatu mahakarya bersama.
…………….
    Tiada yang abadi kecuali tempat ini. Titik kenang malam ini tetap indah seperti biasa. Walaupun 96 jam yang lalu aku mendorongnya untuk menjalani hidup dengan kekasihnya. Hidup nyaman dan tenang karena perbedaan bukanlah pilihan yang nyaman.
    Lima menit lagi sepedaku akan membelah malam, menyusuri liku-liku dengan cepat. Berusaha menjauh dari kejaran bayang suatu titik yang tak sanggup ku teguk sendirian keindahannya. Hingga suatu saat aku merindukan tempat ini aku akan kembali. 

Seperti sempat ku katakan padanya lewat sebait puisi "Senja Mentari akan menjadi saksi pertemuan kita lagi"