Saat orang-orang berlari mengejar mimpi, beberapa orang malah berjalan tenang mengikuti alur kehidupan. Menjalani hidup dengan tujuan yang diusahakan separo-separo.
Aku memilih bersepeda, mengalir halus menyusuri jalan, meliuk-liuk
melewati belokan-belokan sambil menikmati panorama dunia. Seindah
berjalan, secepat berlari, itu yang membuat semua jadi terasa
indah.
Dua bulan lalu tepat di malam seperti ini, dingin,
berangin dan hening, Persis. Sepedaku melibas jalanan kota untuk
sekantong gorengan yang harus ku peroleh di pinggir jalan blok sebelah.
Gorengan hangat yang dingin tentu sempurna pikir ku.
Sepeda
yang dikalungi gorengan pun terparkir di sudut lapangan, kutinggalkan
jauh untuk menjemput dia di gerbang depan kampus. Dia adalah seorang
nasrani cantik yang ku kenal dalam sebuah perjalanan ke arah timur.
Singkat cerita dia datang di pinggir jalan, rasanya dia kebingungan
mencariku walau jarak kita hanya terpisah 5 meter saja. Ku sapa dia dan
meluncurlah kami menuju satu titik pusar cerita ini bermula dan
berpulang.
Titik kenang, begitu mungkin kata yang enak untuk
menyebut tempat ini. Tempat duduk nyaman di bawah pohon tua, di pojok
lapangan. Di sekelilingnya dihiasi lampu-lampu taman yang memanjang
menyerupai mutiara-mutiara berwarna emas dan bercahaya saat dikalungkan
di leher putri yang jelita. Di sampingnya ada satu lampu taman yang
akan membentuk siluet siapa saja yang duduk di tempat itu.
Di sinilah aku pertama kali terperangah memandangi siluet dia.
Suatu fenomena optis yang terjadi akibat adanya cahaya yang kuat di
balik sebuah objek, menghasilkan garis-garis tegas bayangan dia,
menyembunyikan setiap lekuk rupanya. Sederhana, menawan.
"Ini tempat yang sering kuceritakan padamu", dia tersenyum padaku sembari
membalas "Tempatmu biasa membaca buku sambil memandangi senja". Aku
hanya membalas senyumnya dengan lembut. Kami menghabiskan detik-detik
berdua di tempat ini, meresapi perpindahan waktu yang tersedia. "Aku
bakal menemanimu kamu di tempat ini saat senja menjelang", dia berujar
di tengah kecanggungan yang tiba-tiba terbentuk.
Aku bukanlah
lelaki yang biasa menciptakan satu ledakan dalam keheningan, semua
kubawa mengalir halus lewat transisi lembut. Begitu pula saat aku akan
berbicara padanya, aku akan menatap matanya, melempar senyum dan mulai
berbicara. "Apa kamu tidak bosan hanya ku ajak duduk di sini sejak
tadi?" Begitu ku katakan padanya. "Aku mau kok menemani kamu
selama-lama-lama di sini", dia membalas dengan ciri khasnya, mengulang
kata sampai tiga kali.
Senja untuk kami
berdua memang begitu istimewa. Hayalan imaji kita sering bertemu pada
cuplikan waktu indah ini. Senja adalah suatu transisi ang mengantarkan
siang hari pada malam dengan begitu lembut. Sinarnya yang menawan dan
hangat sering membuat kita takjub.
Rasanya seperti pada
suatu malam disaat kita berdua memandangi takjub sebuah bianglala besar
di tengah kota. Itu terjadi pada malam setelah pertemuan kita yang
pertama. Ada rasa takjub, syahdu dan dingin saat itu. Entah karena
kemegahan bianglala membuat kita merasa kecil sebagai makhluk ciptaan
tuhan atau karena kita berdiri berdekatan saling mencanggungi batin
untuk tidak saling menggandeng tangan.
Hubungan dia dengan aku
penuh liku-liku yang cukup singkat. Seperti perjalanan yang kulalui
sepulang kuliah, mengayuh sepeda menuju titik kenang, melalui liku-liku
jalan, melawan arus, memutar, terasa sangat indah walau dilalui dengan
cepat dan singkat.
…………………..
Di titik kenang kami
menamai segala macam hal, mulai dari kucing yang iseng menggodai
kecanggunganku, hingga barang-barang kepunyaan kami. Sayang sepedaku
luput dia beri nama hingga sekarang. Cupcake, pukis, marsya dan vani
adalah korban-korban namaisme kami, kucing-kucing lucu imut dan unik.
Cupcake adalah kucing paling unik sedunia yang aku tahu. Dia menggodai
kami di titik kenang tetapi susah minta ampun untuk dipegang. Walau
akhirnya dia datang demi sebuah cabe yang dia lempar dari kantong
gorengan yang menggantung di sepedaku.
"Dasar kucing spaneng" begitu katanya sambil tertawa kecil saat cupcake mengambil cabe yang dia lempar.
Satu tempat indah juga menjadi korban kami. Malam terakhir sebelum kembali ke kotanya, ku ajak dia menuju satu tempat. Ku namai tempat itu
kebun jerapah. "Kamu mau aku ajak ke kebun jerapah?" Kataku padanya saat
kita asyik duduk di pinggir kolam suatu taman. "Apa itu? apa banyak
jerapah di sana?" tanyanya penasaran.
Tempat itu adalah
sebusur jalan lurus yang penuh kejutan, tikungan terakhir sebelumnya
tidak akan memberi mu apa-apa. Hingga kamu berbelok akan tampak ratusan,
ribuan bahkan mungkin jutaan lampu-lampu yang bertebaran di bukit,
menyatu dengan dengan indahnya bintang-bintang di langit. Membentuk
gugusan ombak-ombak kilau yang hanya dapat ditemui di film-film romansa
tiga dimensi.
Seakan kita ingin melongok lebih jauh, lebih tinggi seperti jerapah untuk melihat lebih jauh.
Dia sempat protes padaku "Tidak ada jerapah di sini", jelas dia tidak
terima dengan penjelasanku. Yang terpenting adalah aku merasakan getaran
dihatiku seakan menyatu dengannya yang duduk ku bonceng dibelakang.
……………..
Titik kenang adalah perpaduan antara tempat yang nyaman dan lalu lalang
lalu lintas yang terkadang cukup mengganggu, hingga akhirnya tidak akan
nyaman lagi. Itulah nasib perbedaan yang sering terjadi di dunia nyata.
Tapi tidak begitu bagi kami, aku pernah berhari-hari shalat di kamarnya
yang dihiasi salib di suatu sisi tembok putih. Itu terjadi dua minggu
yang lalu. Perbedaan, kecanggungan telah luluh di depan kami. Tetap
indah
Bagi kami perbedaan seperti tukang-tukang bangunan yang
bekerja digedung sebelah titik kenang. Beberapa dari mereka bekerja
mengemudikan crane-crane yang tinggi, yang lain membanting palu-palu
untuk menghancurkan beton-beton yang keberadaannya disesali. Mereka
berbeda tetapi memiliki satu komitmen untuk selalu bersatu dan saling
mendukung untuk menciptakan suatu mahakarya bersama.
…………….
Tiada yang abadi kecuali tempat ini. Titik kenang malam ini tetap indah
seperti biasa. Walaupun 96 jam yang lalu aku mendorongnya untuk
menjalani hidup dengan kekasihnya. Hidup nyaman dan tenang karena
perbedaan bukanlah pilihan yang nyaman.
Lima menit lagi
sepedaku akan membelah malam, menyusuri liku-liku dengan cepat. Berusaha
menjauh dari kejaran bayang suatu titik yang tak sanggup ku teguk
sendirian keindahannya. Hingga suatu saat aku merindukan tempat ini aku
akan kembali.
Seperti sempat ku katakan padanya lewat sebait puisi "Senja Mentari akan menjadi saksi pertemuan kita lagi"
