Senin, 22 Juli 2013

Refleksi kehidupan gendis manis

Lantunan lagu What a wonderful world malam ini begitu lembut. Membelai bayang akan keindahan dunia, memunculkan imaji alunan lembut angin yang membelai wajah dan kicauan pohon yang bergesekan daunnya. Sempurna rasanya saat aroma dupa terapi dipadukan dengan segelas kopi lembut di cangkir. Hampir semua indraku diberi kenikmatan oleh tuhan semesta alam maha pengasih serta maha penyayang. Tetapi perjalananku sebenarnya tak selalu manis seperti ini, seperti gula.

Gendis adalah bahasa jawa dari gula, hasil endapan nira yang proses mendapatkannya diiringi oleh kerja keras penuh peluh. Seorang pengumpul nira harus memanjat pohon-pohon yang tinggi atau harus memeras tebu untuk mendapatkan sari alam. Belum lagi kerja keras saat mengaduk nira yang dipanaskan dalam suatu wajan besar yang biasa disebut kawah. Inilah proses penentuan dari kerja keras yang telah dilalui, bila gagal bukan gula yang didapat tetapi hanyalah adonan yang harus dibuang.

Sewaktu kecil aku adalah anak kecil yang lemah. Walaupun tidak selalu menangis dan menjadi pecundang tetapi cap gembeng (cengeng: jawa) melekan setia pada diriku. Jangan kaget lagi kalau pesona lelaki intelektual yang lemah masih melekat erat pada benak tetanggaku di kampung beserta teman-teman masa kecilku.

Boleh jadi itulah yang menjadi tembok tebal yang membuatku merasa underdog di depan lingkungan yang belum ku kenal.

Gula yang manis dapat kau peroleh cukup dengan membeli di toko. Suatu sudut pandang orang-orang instan yang memandangku sebagai intelektual multitalenta yang siap sukses begitu keluar dari kawah candradimuka di mana kita di godok bersama.

Heran juga saat mereka memandangku seperti itu, disaat aku merasa underdog ditengah mereka, mengagumi setiap perilaku dan ucapan mereka serta bangga mengenal mereka.

Kita memang berada dalam satu kawah yang sama, tetapi sepertinya kita sering kali berada pada sisi yang berbeda pada setiap adukan.

Perjalanan hidup yang berbeda inilah yang menjadi salah satu faktor penentu kita. Apakah menjadi gula yang manis atau hanya endapan gagal dari suatu proses yang panjang.

Tetapi janji Tuhan yang menyatakan bahwa manusia adalah makhluk paling istimewa secara otomatis menggugurkan analogi gula tadi. Manusia bukanlah gula yang bila prosesnya gagal lalu menjadi makhluk buangan. Ada perjalanan panjang yang harus dijalani manusia, inilah yang menjadikan suatu kata sukses hanyalah cuplikan status pada satu titik yang sangat singkat. Sesingkat dv/dt atau dl/dt yaitu suatu nilai dalam suatu rentang waktu yang sangat singkat. Selebihnya perjalanan lain harus terus dilewati.

Tidak sesederhana ungkapan “menjadi gula atau dibuang”, tetapi bagaimana meningkatkan lama rentang cuplikan hidup yang di sebut sukses, dan memastikan cuplikan itu juga terjadi pada pada akhir waktu kita.
Sekarang aku tetaplah intelektual lemah di kampungku dan underdog cupu siap sukses di antara kawan-kawanku. Tapi suatu saat kita akan menikmati cuplikan-cuplikan waktu indah di dunia bersama-sama.
Sambil menikmati aroma dupa terapi yang hampir habis ditemani lagu pemicu kedamaian hati. Aku berdo’a untuk cuplikan waktu indah kita dalam satu seruputan kopi.