Lantunan lagu What a wonderful world
malam ini begitu lembut. Membelai bayang akan keindahan dunia,
memunculkan imaji alunan lembut angin yang membelai wajah dan kicauan
pohon yang bergesekan daunnya. Sempurna rasanya saat aroma dupa terapi dipadukan dengan segelas kopi
lembut di cangkir. Hampir semua indraku diberi kenikmatan oleh tuhan semesta alam maha pengasih serta maha penyayang. Tetapi
perjalananku sebenarnya tak selalu manis seperti ini, seperti gula.
Gendis adalah bahasa jawa dari gula, hasil endapan nira yang proses
mendapatkannya diiringi oleh kerja keras penuh peluh. Seorang pengumpul
nira harus memanjat pohon-pohon yang tinggi atau harus memeras tebu
untuk mendapatkan sari alam. Belum lagi kerja keras saat mengaduk nira
yang dipanaskan dalam suatu wajan besar yang biasa disebut kawah. Inilah
proses penentuan dari kerja keras yang telah dilalui, bila gagal bukan
gula yang didapat tetapi hanyalah adonan yang harus dibuang.
Sewaktu kecil aku adalah anak kecil yang lemah. Walaupun tidak selalu
menangis dan menjadi pecundang tetapi cap gembeng (cengeng: jawa)
melekan setia pada diriku. Jangan kaget lagi kalau pesona lelaki
intelektual yang lemah masih melekat erat pada benak tetanggaku di
kampung beserta teman-teman masa kecilku.
Boleh jadi itulah yang menjadi tembok tebal yang membuatku merasa underdog di depan lingkungan yang belum ku kenal.
Gula yang manis dapat kau peroleh cukup dengan membeli di toko. Suatu
sudut pandang orang-orang instan yang memandangku sebagai intelektual
multitalenta yang siap sukses begitu keluar dari kawah candradimuka di
mana kita di godok bersama.
Heran juga saat mereka memandangku seperti itu, disaat aku merasa underdog ditengah mereka, mengagumi setiap perilaku dan ucapan mereka serta bangga mengenal mereka.
Kita memang berada dalam satu kawah yang sama, tetapi sepertinya kita
sering kali berada pada sisi yang berbeda pada setiap adukan.
Perjalanan hidup yang berbeda inilah yang menjadi salah satu faktor
penentu kita. Apakah menjadi gula yang manis atau hanya endapan gagal
dari suatu proses yang panjang.
Tetapi janji Tuhan yang menyatakan bahwa manusia adalah makhluk
paling istimewa secara otomatis menggugurkan analogi gula tadi. Manusia
bukanlah gula yang bila prosesnya gagal lalu menjadi makhluk buangan.
Ada perjalanan panjang yang harus dijalani manusia, inilah yang
menjadikan suatu kata sukses hanyalah cuplikan status pada satu titik
yang sangat singkat. Sesingkat dv/dt atau dl/dt yaitu suatu nilai dalam
suatu rentang waktu yang sangat singkat. Selebihnya perjalanan lain
harus terus dilewati.
Tidak sesederhana ungkapan “menjadi gula atau dibuang”, tetapi
bagaimana meningkatkan lama rentang cuplikan hidup yang di sebut sukses,
dan memastikan cuplikan itu juga terjadi pada pada akhir waktu kita.
Sekarang aku tetaplah intelektual lemah di kampungku dan underdog
cupu siap sukses di antara kawan-kawanku. Tapi suatu saat kita akan
menikmati cuplikan-cuplikan waktu indah di dunia bersama-sama.
Sambil menikmati aroma dupa terapi yang hampir habis ditemani lagu
pemicu kedamaian hati. Aku berdo’a untuk cuplikan waktu indah kita
dalam satu seruputan kopi.