Malam ini aroma dupa-dupa yang ku bakar
tidak mendekatiku sama sekali. Wanginya hanya tersamar dari hidungku,
terkadang membelai-belai tipis, terkadang pergi sama sekali. Persis
seperti selendang kabut malam di gunung-gunung yang pernah kudaki,
bedanya asap dupa ini memberi kehangatan di relung dada.
Kini malam benar-benar dingin, sehingga belaian aroma dupa ini
benar-benar menyiksa. Disaat kehangatan yang aku butuhkan, malah
rasa-rasa mengantung yang terasa. Memang sensasinya berbeda, terasa
lebih lembut dan indah, namun menyiksa.
Pada saat-saat seperti ini aku mulai mengutuki kerelaan terhadap
keputusan-keputusan untuk mengalah yang pernah kubuat. Yah aku sering
mengalah. Tak jarang aku mengalah, bukan karena aku tidak mampu
memperjuangkan kemenangan, tetapi karena ketidak mampuan melihat orang
lain tersakiti oleh kekalahan atau kemenanganku.
Mengalah sangat mudah diwujudkan dengan kata “OK”, “Baiklah”,
“Terserah”. Tetapi percayalah ini sangat sulit untuk diputuskan dan
semakin sulit untuk dijalani.
Memutuskan untuk mengalah berarti harus menghancurkan berbagai hasrat
alamiah manusia yang kita miliki. Kita harus meremukan impian, menimbun
rasa ingin, mengerangkeng hasrat mencintai hingga membunuh kebutuhan
akan kemenangan. Ketidak mampuan untuk melakukan hal-hal itu akan
membuat kata mengalah menjadi sesuati yang tidak mungkin di dapat.
Bukan kata mengalah yang menarik untuk dibahas. Proses untuk
mendapatkan kata itulah yang sulit. Tak kurang aku mengira-ngira bahwa
setiap tuhan dari berbagai agama menjadi pelarian dari umatnya yang
meminta petunjuk akan keputusan untuk mengalah atau tidak. Coba kamu
Tanya tuhanmu masin-masing, -sudah pasti bila kamu sensitive – kamu akan
mendapat jawaban seperti itu.
Namun sebuah keputusan sesuci apapun harus dijalani akibat baik
maupun buruknya. Inilah yang membuatku mengutuki keputusan untuk
mengalah. Beberapa kali mengalah membuatku sadar bahwa ilmu ikhlas itu
sulit didapat dan dikuasai. Sesuci apapun alasan yang kamu lakukan
sehingga mengalah adalah jalan yang dipilih, tetap saja itu menjadi
pilihan yang berat untuk dijalani.
Dupa sudah menjadi objek tulisanku paling
setia sejak perjalanan indahku bersama seorang bidadari surga.Sekali
terbakar dupa tak akan utuh lagi, tak perlu disesali karena hadirnya
telah memberi arti. Walau ikhlas berat untuk direngkuh tetapi yakinlah
keputusanmu telah memberi arti dan patut dihargai.
Suatu saat kamu akan memperoleh kemenangan yang indahnya berkali-kali