Sabtu, 07 Desember 2013
Pada akhirnya
Di suatu titik aku akan merindukanmu bunga
Seperti saat air mataku yang malu-malu mengalir
Atau saat hatiku berdzikir bayang senyummu
Kita berdua memang bukan kertas putih
Di mana tinta takdir dapat ditulis oleh manusia
Takdir indah seindah kata-kata penyair
Yang di dalamnya akan kutulis kita menyatu dalam bahagia
Kita memang bukan angin
Mengalir mengikuti aliran alam
Kadang menyejukan kadang menyakitkan
Walau begitu angin tak akan pernah terpisah
Dia satu dan bersatu walau tanpa wujud
Seperti saat air mataku yang malu-malu mengalir
Atau saat hatiku berdzikir bayang senyummu
Kita berdua memang bukan kertas putih
Di mana tinta takdir dapat ditulis oleh manusia
Takdir indah seindah kata-kata penyair
Yang di dalamnya akan kutulis kita menyatu dalam bahagia
Kita memang bukan angin
Mengalir mengikuti aliran alam
Kadang menyejukan kadang menyakitkan
Walau begitu angin tak akan pernah terpisah
Dia satu dan bersatu walau tanpa wujud
Kamis, 05 Desember 2013
Yang maha esa
Yang tak terucapkan oleh waktu
Yang tak diungkapkan oleh masa
Yang tak terpisahkan oleh perpisahan
Dapat kurangkum menjadi satu kata
Bukan cinta
Bukan rindu
Bukan pula kasih
Karena ini bukanlah syair cinta
Rangkuman sifat-sifat dasar takdir
Cuma bukan takdir
Datangnya bukan rencana
Perginya tidak benar-benar pergi
Karena luka atau bahagianya
tumbuh mekar tiap pagi atau tiap malam hari
Yang disesali dan disyukuri
Yang dihujat dan dipuja
Yang dikenang dan disisihkan
yang dihapus tapi terkenang
Yang maha esa Pertemuan
Yang tak diungkapkan oleh masa
Yang tak terpisahkan oleh perpisahan
Dapat kurangkum menjadi satu kata
Bukan cinta
Bukan rindu
Bukan pula kasih
Karena ini bukanlah syair cinta
Rangkuman sifat-sifat dasar takdir
Cuma bukan takdir
Datangnya bukan rencana
Perginya tidak benar-benar pergi
Karena luka atau bahagianya
tumbuh mekar tiap pagi atau tiap malam hari
Yang disesali dan disyukuri
Yang dihujat dan dipuja
Yang dikenang dan disisihkan
yang dihapus tapi terkenang
Yang maha esa Pertemuan
Rabu, 09 Oktober 2013
Diary Pink
Dia adalah temanku yang selalu menulis hari di buku diary, kamu dapat membaca manis senyumnya lewat bekas guratan pena di kertas warna coklat bersampul biru. Atau kamu juga bisa menyesap air matanya yang kadang mengalir melewati celah-celah wajahnya saat menuliskan harinya di kertas-kertas itu.
Dia berbeda dengan yang lain, temanku yang lain. Pada saat yang lain memiliki hidup seperti bola liar yang dilempar kuat-kuat hingga arahnya tak jelas, dia tidak. Dia tidak terima dengan kenyataan hidup yang memang seperti itu. Dia memberi jalan bola liar itu agar dapat dikendalikan arahnya, atau bila kamu lihat mirip dengan pengekangan. Dia cuma bilang itu semua untuk menjaga orang yang dia cintai agar selalu di sisinya, aku belum paham sampai sekarang apa maksudnya.
Dia berbeda dengan yang lain, temanku yang lain. Pada saat yang lain memiliki hidup seperti bola liar yang dilempar kuat-kuat hingga arahnya tak jelas, dia tidak. Dia tidak terima dengan kenyataan hidup yang memang seperti itu. Dia memberi jalan bola liar itu agar dapat dikendalikan arahnya, atau bila kamu lihat mirip dengan pengekangan. Dia cuma bilang itu semua untuk menjaga orang yang dia cintai agar selalu di sisinya, aku belum paham sampai sekarang apa maksudnya.
Senin, 23 September 2013
Selamat Berbahagia
Setelah aku menjalani hidup
Terbentuklah aku yang seperti ini
Imaji hari yang terlewati
Menjadi alasan bagaimana langkahku
Bagaimana udara kuhirup
Bagaimana tanganku menggenggam
Sejak pagi menjadi lebih bercahaya
Sejak mentari semakin mendamaikan
Sejak malam-malamku semakin syahdu
Sejak itu pula aku akan menggenggam tanganmu
Selasa, 17 September 2013
Sepatu coklat yang menempel di kepala
Langit mendung di ujung jauh pagi ini mengantarkan hari pada mataku yang baru saja terbuka. Udara dingin menyeruak segar melewati jendela kamar yang terbuka setengah. Memberi kesejukan dan kedamaian kedalam jiwaku sebagai bekal menjalani hari, tidak seperti jam waker yang membangunkan tanpa memberiku bekal cukup untuk hari.
Pagi ini seperti biasa, setelah shalat subuh kujauhkan ponselku dan kuseruput teh pahit sisa semalam, bedanya kali ini aku menuliskan hidupku kemarin. Aku membayangkan ujung mendung yang menggantung dapat kurengkuh lewat untaian kenangan manis hari yang lalu.
Dua malam yang lalu kami cukup sibuk mempersiapkan even pemasaran produk terbaru dari satu perusahaan jasa telekomunikasi terkemuka. Malam-malam menjelang acara selalu melelahkan, video promosi belum siap, logistik booth belum lengkap hingga MC yang mendadak sakit. malam itu kuhabiskan waktu sampai dini hari menemani tim kreatif sinematografi untuk menyelesaikan video promosi. Walaupun cuma menemani saja, team terkadang tetap harus ditemani agar moral kerjanya tetap positif apalagi disaat kritis seperti ini.

"Aku tambah tidur dua jam lagi, kalian bisa handle tanpa aku kan", ku telefon ferry sesaat setelah alarmku berbunyi. "Eh enak banget, ya sudah istirahat saja dulu, bagianmu juga sudah beres", jawab ferry. Ternyata tidak seperti yang diharapkan, sejak jam 5 pagi kulanjutkan tidur sampai jam 9. Tanpa pikir panjang dalam 15 menit ku selesaikan rutinitas wajib di pagi hari : mandi, menseruput teh pahit sisa tadi malam, cuci piring dan menutup jendela.
Selasa, 27 Agustus 2013
Tumbang
Bukan putus cinta yang akhirnya menumbangkanku, tetapi kehilangan kehadiranmu yang biasa mendamaikan jiwaku.
Kamu adalah gadis manis nan baik hati, salah satu insan yang paling aku kagumi. Sudah tak terhidung berapa ungkapan kagum yang kusampaikan padamu.
Gambar-gambarmu yang sederhana telah membuatku jatuh cinta sejak awal. Gurata-guratanmu selalu jujur dan segar. Banyak orang yang memuji karyamu dengan kata lucu, imut dan bagus. Semuanya benar tetapi bagiku gambarmu memiliki rasa, manis dan segar seperti strawberry.
Dari gambar-gambarmu aku merasakan kehadiranmu, membayangkan kamu di tengah alat-alat lukis, tenggelam dibalik imajinasi dan mimpi-mimpi mu yang tidak ada habisnya. Sibuk membuat mimpi-mimpi menjadi nyata dengan kertas dan pensil warna. Betapa kagum aku padamu.
Hanya saja kini kamu tak lagi membagi harimu. Tumbang sudah satu pilar senyumku
Minggu, 25 Agustus 2013
Maaf
Maaf, itu kata yang kukatakan berulang-ulang dalam hati. Pada satu titik saat dia menyatakan tidak ingin aku memberinya perhatian. Maaf-maaf-maaf, begitu isi hatiku selama berhari-hari. Aku berpikir keras untuk menemukan berbagai kemungkinan akan pernyataanmu. Aku benar-benar takut telah menyakitimu.
Apa aku telah menyakitimu? apa sakti itu terlalu dalam hingga kamu tak ingin kuperhatikan?
Aku heran dan belum mampu menerjemahkan arti lakumu. Cinta yang ada untukmu bukan lagi cinta yang harus memiliki untuk bahagia. Cinta ini tumbuh dari kebanggaan dan kebahagiaan, Kebanggaan atas seribu warna yang bisa kau tulis dari setiap senyuman hingga kebahagiaan yang kau rajut tiap jalinannya dengan tekun.
Senin, 19 Agustus 2013
Ingin Kembali
Ku inginkan untuk sudah
Ditemani niatan untuk sudah
Tapi sifat alam selalu tak sesuai
Seperti hujan yang turun tanpa kehenda
Pagi selalu menjadi harapan
Saat malam ku menimbun pengharapan
Pada mentari aku menanti
Terangi jalan untuknya kembali
Cuma sepi tidak akan terangkum
Seperti sajak yang tak akan tertulis
Cuma jalan bukan ke mari
Seperti bayangan sulur tumbuhan
Tumbuh tak sesuai kehendak hati
Tapi kemana tuntunan matahari
Ditemani niatan untuk sudah
Tapi sifat alam selalu tak sesuai
Seperti hujan yang turun tanpa kehenda
Pagi selalu menjadi harapan
Saat malam ku menimbun pengharapan
Pada mentari aku menanti
Terangi jalan untuknya kembali
Cuma sepi tidak akan terangkum
Seperti sajak yang tak akan tertulis
Cuma jalan bukan ke mari
Seperti bayangan sulur tumbuhan
Tumbuh tak sesuai kehendak hati
Tapi kemana tuntunan matahari
Minggu, 18 Agustus 2013
Celah Senja
Sore ini di bawah langit yang tertutupi mendung
Siluet Gunung Arjuna tampak membayang dikejauhan
Langit hanya menyisakan sedikit celah antara kaki gunung dan mendung
Celah di mana sisa senja membayang di kejauhan
Aku hanya mampu memandang
Sambil merabai hangat rasa rindu di hati
Rindu ini mencengkram hati
Memeluknya hingga hangat terasa setiap saat
Hingga selalu memberi celah agar senyuman
dan harapan datang disaat hitam kelam menjelang
Siluet Gunung Arjuna tampak membayang dikejauhan
Langit hanya menyisakan sedikit celah antara kaki gunung dan mendung
Celah di mana sisa senja membayang di kejauhan
Aku hanya mampu memandang
Sambil merabai hangat rasa rindu di hati
Rindu ini mencengkram hati
Memeluknya hingga hangat terasa setiap saat
Hingga selalu memberi celah agar senyuman
dan harapan datang disaat hitam kelam menjelang
Harapan pasti datang untuk cuplikan masa depan yang pantas dikenang
Jumat, 16 Agustus 2013
Kabut Tipis Semanis Madu
Saat aku berjalan di taman surga yang dikelilingi pohon-pohon pinus, ditengah serak-serak daun berjari lima yang kering, ditengah kabut putih yang lembut, gadis manis itu tampak rapuh. Didekap kedua kakinya sambil memangku wajah diatas lututnya. Sesekali terdengar sesengukan, mungkin itu sisa sisa tangis kesedihannya.
Kuitari dari jauh gadis manis berkerudung itu. Sekelilingnya terasa
hangat. Ada aura kuat yang bukan aura orang biasa. Semangat kuat yang
bukan semangat orang biasa. Itu bukan kebimbangan kuat yang bukan
kebimbangan orang biasa. Dalam hatiku berkata, gadis manis akan
kuhapuskan kebimbanganmu dan hiduplah bersamaku berbagi kasih.
Cuplikan
Seringkali kisah cinta harus menghadapi suatu tembok nan tinggi dan tebal. Tembok itu adalah pilihan yang memisahkan antara kenangan, kasih sayang dan kenyataan menjadi satu kesatuan yang terpisah-pisah.
Kenyataan adalah apa yang kita rasakan setiap saat, kita tak mampu menghindari rasa yang hadir tetapi kita bisa mengabaikan rasa yang hadir, demi kebaikan atau karena keraguan dan ketidak mampuan menerima kenyataan.
Aku kagum padamu karena kamu pernah terjebak dalam kungkungan rasa yang selalu kau coba untuk abaikan dan akhirnya memutuskan dan memilih untuk mengakui rasa itu. Kamu memutuskan mengakui rasa sakit dan meninggalkannya.
Empat bulan bukanlah waktu yang sebentar untuk mengabaikan rasa, apalagi rasa itu adalah rasa sakit. Terbayang berapa banyak kata ikhlas dan mantra pendingin hati yang kau rapal uuntuk mengabaikan rasa itu. Menipu diri dan berharap esok semua akan menjadi lebih baik.
Rabu, 14 Agustus 2013
Puisi Teman Sang Rembulan
Meski tak gamblang
Seperti bulan tanpa selimut awan
Walau tak jernih
Layaknya bulat mata bintang
Dengan sadar rindu telah di kenang
Tapi cinta masih dikandung badan
Seperti bulan tanpa selimut awan
Walau tak jernih
Layaknya bulat mata bintang
Dengan sadar rindu telah di kenang
Tapi cinta masih dikandung badan
Kamis, 01 Agustus 2013
Fase hidup sore
Kamu selalu setia menunggu sore
Waktu di mana aku menemuimu
Sambil menikmati tetes do'a dari gelas kaca
Aku selalu setia menemuimu sore
Waktu di mana kamu menungguku
Sambil memberi tetes do'a dari gelas kaca
Kamu telah melihatku sejak umurmu sesenti
Di dalam pot hitam yang ku isi pupuk kandang
Aku ingat do'a pertama untukmu di sore itu
Senin, 29 Juli 2013
Titik Kenang
Saat orang-orang berlari mengejar mimpi, beberapa orang malah berjalan tenang mengikuti alur kehidupan. Menjalani hidup dengan tujuan yang diusahakan separo-separo.
Aku memilih bersepeda, mengalir halus menyusuri jalan, meliuk-liuk
melewati belokan-belokan sambil menikmati panorama dunia. Seindah
berjalan, secepat berlari, itu yang membuat semua jadi terasa
indah.
Dua bulan lalu tepat di malam seperti ini, dingin,
berangin dan hening, Persis. Sepedaku melibas jalanan kota untuk
sekantong gorengan yang harus ku peroleh di pinggir jalan blok sebelah.
Gorengan hangat yang dingin tentu sempurna pikir ku.
Teori cinta
Dua minggu ini hatiku kuhabiskan untuk menyesali keputusan yangaku buat beberapa waktu yang lalu.
"Ini aku kasih tahu, ini aku namakan teori cinta", Aku merebut buku catatan dan drawing pen dari tangannya.
Kugambarkan lingkaran yang aku hubungkan dengan lingkaran lain, sambil kuceritakan arti dari tiap hubungan itu. "Cinta adalah suatu rasa yang timbul dalam pikiran tentang suatu objek, cinta akan kamu dapatkan kalau kamu mengijinkan", begitu kataku saat ku gambarkan salah satu lingkaran.
"Yang menjadi masalah bila kita ingin melepas cinta itu", lanjutku sambil memandang wajahnya dalam-dalam. Saat itu aku merasa mustahil bagiku untuk melepaskannya, dia begitu halus dan lembut tetapi dia tetap berkarakter. Ah Dewi impianku.
Jumat, 26 Juli 2013
Siluet sebuah tugu
Kamu mengejutkanku
Dengan tingkahmu yang begitu kuat
Kamu diam tanpa gurat kesedihan
Memandang kebahagiaan yang tak mampu kau rasakan
Entah kamu tuli atau apa
Saat mereka bersapa sayang
Saat mereka bersapa rindu
Disampingmu
Kau hanya diam
Entah kamu buta atau apa
Saat mereka bergandeng tangan
Saat mereka berpelukan
Disampingmu
Kau hanya diam
Di taman-taman yang di hiasi lampu taman
Siluet tugu lampu taman
Mencipta garis tegas antara ada dan tiada
Dengan tingkahmu yang begitu kuat
Kamu diam tanpa gurat kesedihan
Memandang kebahagiaan yang tak mampu kau rasakan
Entah kamu tuli atau apa
Saat mereka bersapa sayang
Saat mereka bersapa rindu
Disampingmu
Kau hanya diam
Entah kamu buta atau apa
Saat mereka bergandeng tangan
Saat mereka berpelukan
Disampingmu
Kau hanya diam
Di taman-taman yang di hiasi lampu taman
Siluet tugu lampu taman
Mencipta garis tegas antara ada dan tiada
Romansaku malam ini
Romansaku yang terbangun di dekat sebuah lampu taman muncul kembali dengan sangat kuat malam ini. Kejadian-kejadian kehidupan di sekelilingku yang biasanya hadir menguapkan rasa rindu, kini serasa hilang. Aku tak kuat menahan rasa yang berusaha kukubur dengan waktu.
Sebenarnya bahagia dalam romansa bagiku sangat sederhana, Bahagiaku hadir saat wanitaku bahagia. Sangat sederhana sebenarnya. Pernah dia menyatakan kebahagiaannya tentang rasa lega yang akhirnya dia rasakan, betapa bahagia diriku saat itu.
Kisah romansaku begitu pilu saat aku menyadari bahwa kebahagiaan tidak dapat dia peroleh dariku. Meski berat tentu harus kulepaskan dan mengantarkannya kepada kebahagiaan. Tapi sebenarnya kali ini aku menyesali keputusanku untuk melepaskannya. Dia kulepas karena akan ada titik berat pada perjalanan kita nanti, padahal aku yakin sebelum dan sesudah titik itu aku bisa mempersembahkan kebahagiaan baginya.
Sebenarnya bahagia dalam romansa bagiku sangat sederhana, Bahagiaku hadir saat wanitaku bahagia. Sangat sederhana sebenarnya. Pernah dia menyatakan kebahagiaannya tentang rasa lega yang akhirnya dia rasakan, betapa bahagia diriku saat itu.
Kisah romansaku begitu pilu saat aku menyadari bahwa kebahagiaan tidak dapat dia peroleh dariku. Meski berat tentu harus kulepaskan dan mengantarkannya kepada kebahagiaan. Tapi sebenarnya kali ini aku menyesali keputusanku untuk melepaskannya. Dia kulepas karena akan ada titik berat pada perjalanan kita nanti, padahal aku yakin sebelum dan sesudah titik itu aku bisa mempersembahkan kebahagiaan baginya.
Cukup sudah, kini aku hanya akan menikmati kebahagiaannya di tempat baru sambil berangan selagi bisa
Kamis, 25 Juli 2013
Congkak
DI lembah kaki gunung
Di puncak pucuk gunu
Di daki pendaki
Di puji penyair
Di puja pendeta
Ceruk kecil remang di bawah kaki gunung
Celah hitam gelap di sebelah pucuk gunung
Lirikan pun tak mampir
Lolongan anjing tak hadir
Hanya selebaran kosong
Hasil kolang-kaling tak penting
Ooo Lembah Ooo Puncak
Tak rela kau berdiri
Tak sudi ku iri
Tak kan kalah aku yang suci
Di puncak pucuk gunu
Di daki pendaki
Di puji penyair
Di puja pendeta
Ceruk kecil remang di bawah kaki gunung
Celah hitam gelap di sebelah pucuk gunung
Lirikan pun tak mampir
Lolongan anjing tak hadir
Hanya selebaran kosong
Hasil kolang-kaling tak penting
Ooo Lembah Ooo Puncak
Tak rela kau berdiri
Tak sudi ku iri
Tak kan kalah aku yang suci
Selasa, 23 Juli 2013
Senin, 22 Juli 2013
Refleksi kehidupan gendis manis
Lantunan lagu What a wonderful world
malam ini begitu lembut. Membelai bayang akan keindahan dunia,
memunculkan imaji alunan lembut angin yang membelai wajah dan kicauan
pohon yang bergesekan daunnya. Sempurna rasanya saat aroma dupa terapi dipadukan dengan segelas kopi
lembut di cangkir. Hampir semua indraku diberi kenikmatan oleh tuhan semesta alam maha pengasih serta maha penyayang. Tetapi
perjalananku sebenarnya tak selalu manis seperti ini, seperti gula.
Gendis adalah bahasa jawa dari gula, hasil endapan nira yang proses
mendapatkannya diiringi oleh kerja keras penuh peluh. Seorang pengumpul
nira harus memanjat pohon-pohon yang tinggi atau harus memeras tebu
untuk mendapatkan sari alam. Belum lagi kerja keras saat mengaduk nira
yang dipanaskan dalam suatu wajan besar yang biasa disebut kawah. Inilah
proses penentuan dari kerja keras yang telah dilalui, bila gagal bukan
gula yang didapat tetapi hanyalah adonan yang harus dibuang.
Menjalani Kalah
Malam ini aroma dupa-dupa yang ku bakar
tidak mendekatiku sama sekali. Wanginya hanya tersamar dari hidungku,
terkadang membelai-belai tipis, terkadang pergi sama sekali. Persis
seperti selendang kabut malam di gunung-gunung yang pernah kudaki,
bedanya asap dupa ini memberi kehangatan di relung dada.
Kini malam benar-benar dingin, sehingga belaian aroma dupa ini
benar-benar menyiksa. Disaat kehangatan yang aku butuhkan, malah
rasa-rasa mengantung yang terasa. Memang sensasinya berbeda, terasa
lebih lembut dan indah, namun menyiksa.
Pada saat-saat seperti ini aku mulai mengutuki kerelaan terhadap
keputusan-keputusan untuk mengalah yang pernah kubuat. Yah aku sering
mengalah. Tak jarang aku mengalah, bukan karena aku tidak mampu
memperjuangkan kemenangan, tetapi karena ketidak mampuan melihat orang
lain tersakiti oleh kekalahan atau kemenanganku.
Langganan:
Postingan (Atom)








