Dua minggu ini hatiku kuhabiskan untuk menyesali keputusan yangaku buat beberapa waktu yang lalu.
"Ini aku kasih tahu, ini aku namakan teori cinta", Aku merebut buku catatan dan drawing pen dari tangannya.
Kugambarkan lingkaran yang aku hubungkan dengan lingkaran lain, sambil kuceritakan arti dari tiap hubungan itu. "Cinta adalah suatu rasa yang timbul dalam pikiran tentang suatu objek, cinta akan kamu dapatkan kalau kamu mengijinkan", begitu kataku saat ku gambarkan salah satu lingkaran.
"Yang menjadi masalah bila kita ingin melepas cinta itu", lanjutku sambil memandang wajahnya dalam-dalam. Saat itu aku merasa mustahil bagiku untuk melepaskannya, dia begitu halus dan lembut tetapi dia tetap berkarakter. Ah Dewi impianku.
Aku melanjutkan teoriku tentang cinta, "Sejatinya cinta itu bisa dilepas, tetapi akan sangat berat. Kamu baru bisa melepas cinta sepenuhnya dengan dua hal". Aku melempar pandanganku kesekitar untuk menyembunyikan setitik air mata yang akan menetes.
Mataku kini tertuju pada pinggiran jalan tempat kami duduk memandang bintang dan lampu-lampu kota 15 menit yang lalu. "Apa esok kita bisa menikmati malam indah ini lagi?" kubaca matamu mengatakan itu padaku. "Ayo coba hitung lamput bewarna merah!" Ajaku untuk sedikit menghiburnya.
Dia sedikit menyenggolku sehinga aku kembali tersadar dari memori kecilku itu. "Dua hal itu kamu tahu ko. Yang pertama oleh waktu, tapi ini akan memakan wakt yang sangat lama." Sambil menggambar bulatan yang lain aku melanjutkan dengan berat, "Yang kedua adalah cinta yang baru."
Itulah teori yang kuungkap padanya. Teori tentang perpisahan, cinta dan waktu yang kurangkum lewat goresan-goresan kecil yang kusebut teori cinta.
Lewat teori itulah aku melepasmu, memaksamu melepas cinta untukku dan kuantarkan pada cinta yang baru. Agar kamu mudah melepasku, atau mungkin juga melupakanku.
Bila aku dengan mudahnya mengatarkanmu pada cinta baru - sehingga tak perlu aku bersedih karena kesedihanmu-, Tapi aku memilih cara pertama, waktu. Dengan waktu aku ingin melepasmu perlahan, merasakan setiap getaran pada tiap detik yang terkadang membuatku tersiksa, Terkadang getaran itu juga membuatku mampu memaknai arti cinta diantara kita yang telah melesap kuat dalam hatiku.
"Harusnya aku tak merelakanmu dan mengantarkanmu pada cinta yang lain. Karena lebih mudah menerima kamu dengan segala masa lalumu, dari pada membentuk imaji kamu bermesraan dengan cinta yang baru." Kutukku dalam hati disetiap detik yang menyiksa.
Walau sering juga aku berkata "Indah nian cinta ini, begitu kuat melesap hingga tak mau pergi." Senyumku sambil menahan haru.
