Seringkali kisah cinta harus menghadapi suatu tembok nan tinggi dan tebal. Tembok itu adalah pilihan yang memisahkan antara kenangan, kasih sayang dan kenyataan menjadi satu kesatuan yang terpisah-pisah.
Kenyataan adalah apa yang kita rasakan setiap saat, kita tak mampu menghindari rasa yang hadir tetapi kita bisa mengabaikan rasa yang hadir, demi kebaikan atau karena keraguan dan ketidak mampuan menerima kenyataan.
Aku kagum padamu karena kamu pernah terjebak dalam kungkungan rasa yang selalu kau coba untuk abaikan dan akhirnya memutuskan dan memilih untuk mengakui rasa itu. Kamu memutuskan mengakui rasa sakit dan meninggalkannya.
Empat bulan bukanlah waktu yang sebentar untuk mengabaikan rasa, apalagi rasa itu adalah rasa sakit. Terbayang berapa banyak kata ikhlas dan mantra pendingin hati yang kau rapal uuntuk mengabaikan rasa itu. Menipu diri dan berharap esok semua akan menjadi lebih baik.
